Translate
Senin, 01 Oktober 2012
Pneumonia/Penyakit Pembunuh Bayi YangTerganas,Tapi Masih Disepelekan
Pneumonia alias penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit, masih menjadi penyebab kematian terbesar balita di Indonesia.Sekitar 156 juta kasus pneumonia baru pertahun terjadi di seluruh dunia dan menjadi penyebab kematian 1,5 juta anak usia di bawah lima tahun (balita) setiap tahun. Sayangnya, penyebab kematian utama pada balita ini termasuk dalam kelompok pembunuh yang terlupakan karena kurangnya edukasi dan tingkat kesadaran yang rendah masyarakat.Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil penelitian Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, NTB, yang diketuai oleh Prof. DR. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) sebagai peneliti utama di lima puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah, yaitu Puskesmas Praya, Pringgerata, Ubung, Puyung dan Mantang menemukan, sekitar 33 persen dari 1200 anak sehat yang diteliti ditemukan kuman S. pneumonia di nasofaringnya.Angka prevalensi ini menurun bila dibandingkan dengan penelitian Soewignyo pada tahun 1997, dimana prevalensinya saat itu adalah 48 persen."Hal ini menunjukkan kolonisasi pada anak sehat tidak banyak berubah. Karenanya, meski prevalensinya menurun tetap harus diwaspadai," ujar Prof. DR. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI di Jakarta.Dikatakannya, setelah dilakukan pemeriksaan dengan PCR didapatkan pneumokokus dengan 25 serotipe, dengan persentase 3 serotipe terbanyak adalah 6A/B, 19F, dan 23F. Hal ini berbeda dengan penelitian pada tahun 1997, dimana dari 221 isolat yang positif biakan pneumokokusnya, ditemukan pneumokokus dengan 17 serogrup/serotipe, dan yang terbanyak secara berturut-turut adalah Serogrup 6, 23, dan 15," tambahnya .Ditambahkan, berdasarkan hasil uji kepekaan pneumokokus terhadap antibiotik, sebagian besar masih sensitif terhadap antibiotik yang biasa digunakan di puskesmas (diatas 94 persen), dengan tingkat resistensi dibawah 2 persen yakni. antibiotik cefadroxil, cefuroxime, amoxicilin, ampicilin, clindamicin, dan penicilin. Uji kepekaan yang paling rendah adalah terhadap antibiotik Kotrimoksazol, yang sensitivitasnya hanya 36 persen dan resistensinya 48,6 persen."Tingkat resistensi terhadap obat kotrimoksazol meningkat dari 12 persen menjadi 48,6 persen yang menunjukkantingkat resistensi obat ini terhadap pneumokokus, dan tidak mustahil juga pada kuman-kuman yang lain, semakin meningkat. Karenanya penggunaan antibiotik ini sebagai pengobatan lini pertama, perlu dievaluasi lagi," tegasnya.
Dari penelitian yang dilakukan Sri Rezeki didapatkan fakta 72 persen dari 1200 anak yang dilakukan pengambilan apusan di nasofaringnya, ternyata merupakan terpapar asal rokok yang dari perokok anggota keluarganya lainnya. Paparan asap rokok ini dapat meningkatkan resiko untuk terjadinya infeksi oleh kuman pneumokokus.Meski menjadi pembunuh balita nomor satu, pneumonia masih belum banyak diperhatikan. Masyarakat di pedesaan maupun perkotaan banyak yang belum menyadari ancaman serius akibat penyakit ini.Masyarakat lebih memperhatikan penyakit balita seperti diare, campak, polio bahkan HIV/ AIDS. Padahal sejak awal 1980-an sampai saat ini,di puskesmas- puskesmas pneumonia selalu menjadi penyakit yang paling banyak diderita balita. Karenanya diperlukan edukasi dan penatalaksanaan untuk mneingkatkan kewaspadaan masyarakat.
"Disisi lain perlu kesadaran pentingnya Vaksinasi atau imunisasi.Seperti diketahui, Streptococcus pneumoniae atau yang juga disebut dengan Pneumokokus adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit yang ringan maupun berat pada manusia. Penyakit berat yang ditimbulkannya disebut dengan Penyakit Pneumokokal Invasif atau Invasif Pneumococcal Disease (IPD), yaitu Radang Paru Akut, Bakteremia dan Radang Selaput Otak. Infeksi pneumokokus dapat menyebabkan penyakit yang sering terjadi pada anak khususnya yang berusia kurang dari lima tahun.Dalam kondisi normal, bakteri ini dapat ditemukan di daerah belakang hidung (nasofaring) sebagai kuman atau bakteri komensal, yaitu bakteri yang biasa ada di suatu tempat di tubuh manusia tanpa menimbulkan penyakit, dan disebut dengan Karier Nasofaring.Dalam kondisi tertentu, yang menurunkan daya tahan tubuh anak, seperti infeksi virus yang berulang, kebiasaan terpapar asap rokok, dan lain-lain, kuman ini bisa memasuki aliran darah dan menyebabkan IPD.
Salah Buka Pintu Penerbangan Pria China Diperingatkan
Seorang pria asal China perlu menahan diri setelah dia mencoba untuk membuka pintu keluar darurat yang dia pikir adalah pintu toilet saat sebuah penerbangan menuju Hong Kong, ujar sebuah maskapai penerbangan pada Jumat.Kru penerbangan Hong Kong Airlines dari Bali, Indonesia, terkejut melihat seorang pria berusia 52 tahun bangkit dari tempat duduknya dalam setangah dari perjalanan dan mulai menarik pegangan pintu darurat, ujar maskapai penerbangan.Pintu gagal dibuka dan kru langsung menahan pria tersebut, yang diidentifikasi dengan nama keluarga Peng.“Ketika kepolisian bertanya kepadanya setelah mendarat, dia mengatakan dia pikir itu adalah pintu toilet. Ini pertama kalinya dia melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat,” ujar seorang juru bicara maskapai penerbangan.Perusahaan mengeluarkan surat peringatan terhadap pria tersebut namun kepolisian tidak memproses kasus tersebut, ujarnya.
Fox News Meminta Maaf Siarkan Di Adegan Penembakan
Seorang penyiar Fox News pada Jumat meminta maaf setelah saluran tersebut menayangkan, secara langsung, seorang terduga pembajak mobil di Arizona yang menembak dirinya sendiri di kepala setelah melarikan diri dengan kecepatan tinggi.Pria yang belum teridentifikasi itu terlihat jelas dari sebuah helikopter berita mengarahkan, senjata pada dagunya dan jatuh tidak lama setelah ia membajak sebuah mobil Dodge Caliber merah di sebuah jalan gurun, di luar Phoenix.“Kami benar-benar salah dan kami meminta maaf,” ujar penyiar Shepherd Smith, yang berbicara kepada para penonton yang melihat siaran langsung tersebut, dengan penundaan selama lima detik, yang seharusnya dipotong untuk menjaga siaran tersebut tetap ada.“ Hal tersebut tidak akan terjadi lagi,” tambah Smith, bahkan ketika video tersebut hampir menyebar di beberapa situs media sosial.
Tidak segera diketahui apakah tersangka itu telah meninggal atau belum.Fox 10 yang berafiliasi dengan staisun TV di Phoenix mengatakan bahwa kepolisian mengejar orang yang diduga membajak mobil dalam kecepatan tinggi selama lebih dari satu jam, pertama di Interstate 10, kemudian di jalan-jalan sekitar kota Salome, sebelah barat Phoenix.
“Tersangka berhenti di salah satu jalan dan berlari menjauhi kendaraan sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri,” ujarnya dalam situsnya (www.myfoxphoenix.com).
Mereka juga mengatakan bahwa tersangka melepaskan tembakan ke arah polisi saat awal terjadinya insiden tersebut
Langganan:
Postingan (Atom)
