Translate

Senin, 24 September 2012

Mario Balotelli Membuat Roberto Mancini Geram [Lagi]

Roberto Mancini terlihat dibuat geram oleh Mario Balotelli. Kegeramannya terlihat beberapa saat sebelum ia masuk ke ruang ganti.Saat berjalan menuju lorong kamar ganti pemain, Balotelli terlihat mengatakan sesuatu kepada Mancini, yang berujung pada hardikan dari pelatih asal Italia itu kepada pemainnya tersebut.Kabarnya, Mancini tidak senang mendapat kritik dari Balotelli, yang juga tidak senang diturunkan hanya di menit-menit akhir pertandingan.Namun Mancini menolak untuk menanggapi insiden tersebut ketika ditanya jurnalis."Saya lupa. Saya tak tahu apakah ia meminta saya sesuatu, tapi hal itu tak penting," kata Mancini."Apa karena ia tidak bermain? Mungkin, saya akan bertanya kepadanya," tandasnya.Sebelumnya, Balotelli juga dikabarkan bersitegang dengan Mancini, yang berujung pada tidak dimainkannya ia di ajang Liga Champions melawna Real Madrid pada pertengahan minggu lalu.

Tidak Akan Adanya Jokowi-Jokowi yang Lainnya

Kementerian Dalam Negeri menyatakan rencananya untuk melarang seorang kepala daerah ikut kontes pemilihan di daerah lain sebelum masa jabatannya usai. »Sekarang akan dilakukan perbaikan pengaturan. Kami larang pindah-pindah jabatan (lintas daerah),” kata Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Djoehermansyah, Sabtu, 22 September 2012.Rencana itu dituangkan dalam satu pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang sedang diajukan rancangan perubahannya. Undang-undang itu sendiri tentang pemerintahan daerah. Dan pembahasannya diharapkan rampung pada akhir tahun ini. Djoehermansyah memaparkan redaksional pasal yang dimaksudnya tersebut. »Jika sedang menjabat bupati/wali kota, kemudian dia maju kembali ke pemilihan di daerah lain, syaratnya harus berhenti dari jabatan.”Pasal yang ada saat ini, kepala daerah boleh melamar dalam pemilu di daerah lain cukup dengan izin cuti. Ini, kata Djoehermansyah, tidak sesuai dengan harapan Kementerian. »Kalau lagi menjabat, harus selesaikan dulu masa jabatannya, selesaikan dulu kontraknya dengan rakyat,” ujar dia.Prinsip Kementerian Dalam Negeri, kata Djoehermansyah, membangun demokrasi yang berbasis moralitas dan etika politik santun. »Jangan sampai dia mengkhianati amanat pada rakyat. Jadi kutu loncat.”Contoh gampang dari kasus pindah-pindah jabatan kepala daerah ini adalah yang dilakukan Joko Widodo, pemenang Pilkada DKI Jakarta versi hitung cepat. Jokowi sampai hari ini masih menjadi Wali Kota Solo. Sebelumnya juga ada Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin yang ikut bersaing di Pilkada putaran pertama.

Strategi di Balik,Atas Kemenangannya Mas Gubernur Jokowi

Tim pendukung calon gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sukses menggenggam dukungan kelompok menengah. Hal itu terungkap dalam laporan utama majalah Tempo edisi 24 September-29 September berjudul #Jokowinner. Mereka misalnya, berhasil menggarap kelompok supir taksi Jakarta.Itu yang terjadi saat Joko Widodo turun di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. Keluar dari Pintu 2F, Joko Widodo diserbu penumpang di terminal kedatangan dalam negeri Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Terminal pesawat yang sibuk pada Rabu pekan lalu itu bertambah riuh dengan kehadirannya. Wali Kota Solo ini memboyong keluarga besarnya ke Ibu Kota sehari menjelang pencoblosan putaran kedua pemilihan Gubernur Jakarta.Setelah bersalaman dan foto-foto, Jokowi ngeloyor menuju pangkalan taksi. Sang kandidat menyapa para sopir, bersalaman, dan membiarkan dia jadi obyek foto-foto. ”Ini silaturahmi dengan saudara-saudara saya, teman-teman taksi minta ditengok,” kata Jokowi, terus melempar senyum. Lima belas menit mengobrol, calon yang diajukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra itu pamit. Ia melempar handuk putih kecil bertulisan namanya.Bukan kunjungan tiba-tiba, sopir taksi merupakan salah satu kelompok yang digarap tim sukses Jokowi sejak putaran pertama pemilihan Gubernur Jakarta, Juli lalu.Menurut seorang politikus, tim Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mendekati para pengemudi ini. Sopir taksi dipilih karena merasakan langsung kemacetan jalanan Jakarta setiap hari. ”Asumsinya, mereka tak akan suka Fauzi Bowo,” katanya, menyebutkan gubernur inkumben yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli itu.Fauzi Bowo dituding tak berhasil mengurai kemacetan sejak ia memimpin Jakarta pada 2007. Hal ini dimanfaatkan penantangnya. Sentimen negatif terhadap Fauzi itu diharapkan menular kepada penumpang taksi melalui para sopir tersebut. Penumpang taksi, menurut dia, merupakan kelompok menengah yang merasakan kemacetan setiap pergi dan pulang kerja.Denny Iskandar, sekretaris tim sukses Jokowi, mengatakan sopir taksi merupakan golongan masyarakat yang secara sukarela membantu timnya. Ia tidak menyebutkan secara spesifik adanya penggarapan kelompok itu. Yang jelas, menurut dia, ”Keaktifan sopir taksi itu menunjukkan strategi kami turun ke bawah berhasil.”Strategi menggarap kalangan menengah ke bawah berhasil mendorong perolehan suara Jokowi, yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Hasil exit poll Saiful Mujani Research & Consulting pada hari pemilihan menunjukkan sebagian besar pemilih yang berpenghasilan lebih dari Rp 3 juta dan punya kendaraan memberikan suara buat Jokowi.Eep Saefulloh Fatah, Direktur PolMark Indonesia yang menjadi konsultan politik Jokowi, mengatakan, ”Kami percaya diri: kalangan menengah ke atas akan enggan memilih Foke-Nara. Mereka cenderung memilih Jokowi-Basuki atau golput.”Maka, menurut Eep, pertarungan sesungguhnya antara Jokowi dan Fauzi adalah perebutan dukungan kelas menengah-bawah. Menurut sejumlah survei, kelompok ini cenderung memilih Fauzi. Perebutan pemilih kelompok ini memanas karena isu agama dan ras, yang marak pada bulan puasa hingga menjelang pemilihan putaran kedua.